Betapa Kecilnya Seorang Manusia

Betapa Kecilnya Seorang Manusia

Bagaimana kita bisa berkata demikian? Ini adalah cara kita harus berintrospeksi, cara ini kita akan merasakan bahwa seorang pria (atau manusia) sangat kecil. Anda mungkin bertanya mengapa bisa demikian. Marilah kita periksa beberapa fakta tentang kehidupan. Seorang pria tinggal di sebuah keluarga. Pria tersebut hanyalah bagian dari keluarga itu. Kita sedang berbicara tentang fungsi atau pentingnya pria tersebut dalam sebuah keluarga. Kita berbicara tentang betapa kecilnya pria tersebut dibandingkan dengan hal-hal disekelilingnya.

Keluarga hidup di sebuah lingkungan masyarakat yang lebih luas. Di masyarakat seorang pria bahkan lebih kecil. Masyarakat berada dalam sebuah negara. Lalu, di dunia yang luas ini, seorang pria terlihat jauh lebih kecil. Perbandingan yang lebih jelas terlihat antara dunia (atau Bumi) dan alam semesta.

Ini adalah sebuah pemikiran ilmiah. Bumi tempat kita hidup tidak sendirian di alam semesta ini. Bumi hanyalah satu planet kecil di sistem tata surya. Ada delapan planet lain di sistem tata surya yang sama. Selain itu, ada juga komet yang mempunyai orbit yang tidak biasa di sekitar matahari. Jika revolusi bumi berkisar pada 365,25 hari, komet Halley muncul setiap 75 tahun sekali. Coba bayangkan betapa jauhnya komet tersebut pergi ke luar sistem ata surya kita.

Sistem tata surya kia hanyalah sebuah bagian kecil dari keseluruhan bagian. Tata surya sendiri berotasi dengan matahari sebagai pusatnya dan tata surya juga berputar di sekitar pusat galaksi Bima Sakti. Pemikiran lebih mendalam akan membawa kita pada galaksi-galaksi lain seperti Andromeda, Betelgeuse, Orion dan Awan Magellanic. Coba kita lihat bumi kembali. Bumi memiliki satu satelit yaitu bulan.

Jarak terpendek antara bumi dan bulan adalah 380.000 km dan jarak antara bumi dan matahari adalah 150 juta km. Ahli astronomi berpendapat bahwa bintang terdekat dengan bumi adalah Alpha Centauri dengan jarak 300.000 X 60 X 60 X 24 X 365,25 km. Hal it membantu kita memahami bahwa manusia terlihat sangat kecil di alam semesta ini, bahkan bumi tempat milyaran mahluk hidup tinggal. Ahli astronomi menyadari bahwa mereka hanya mengetahui sedikit sekali tentang sistem tata surya.

Hal itu berarti bahwa mereka mengetahui sedikit dari alam semesta ini. Akan tetapi, mereka berusaha untuk menggali lebih dalam tentang alam semesta dan lebih jauh melihat ruang yang tak terbatas. Sebagai contoh, planet terdekat dari bumi adalah Venus.  Jaraknya 42 juta km. Meskipun para peneliti telah mengirimkan Explorer atau Lunic ke luar angkasa, planet Venus masih menjadi misteri. Sama halnya dengan planet-planet lainnya, Merkurius, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto dan planet-planet kecil lainnya yang berada di antara Mars dan Yupiter. Misteri lainnya adalah penampakan UFO (Benda Melayang yang Tidak Dikenal).

Jika kita berpikir bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling cerdas, kita harus mengecilkan pemikiran tersebut. UFO kadang telah dapat terlihat oleh mata telanjang manusia. Jimmy Carter, presiden AS terdahulu menyatakan bahwa dia pernah melihat piring terbang. Dalam hal ini, ada keraguan bahwa Tuhan menciptakan mahluk hidup hanya di bumi. Apakah kamu masih merasakan sesuatu pada rasa banggamu?

Advertisements

Ternyata, Memilih itu Susah!

Ternyata, Memilih itu Susah!

Catatan Kecil Seorang Peziarah

Tulisan ini bermula ketika saya membaca kisah tentang Yakheus, seorang kepala pemungut cukai di daerah Yerikho. Sebagai seorang kepala pemungut cukai, Zakheus bertugas mengumpulkan pajak yang telah ditetapkan oleh pemerintahan Romawi. Dalam beberapa bacaan disebutkan orang-orang semacam itu dibenci dan dihina karena mereka suka memungut pajak melebihi yang wajib atau dengan kata lain mereka suka memeras masyarakat.

Nah, ini bagian yang menurut saya cukup aneh. Terhadap orang seperti itu, Yesus masih mau datang untuk bertamu ke rumah Zakheus. Jika kita mau lihat lebih jauh, orang biasapun enggan untuk bertamu ke rumah yang masyarakat cap sebagai orang yang tidak baik. Mengapa Yesus senekat itu memilih untuk bertamu ke rumah kepala pemungut cukai? Padahal resikonya cukup besar. Bisa-bisa Yesus nanti dikucilkan oleh masyarakat.

Inilah yang mengantar saya pada permenungan tentang bagaimana sulitnya menentukan sebuah pilihan. Ada banyak alasan mengapa Yesus berbuat seperti itu, misal karena Yakheus berbadan pendek dan ketika Yesus datang dia harus bersusah payah untuk naik ke atas pohon. Mungkin Yesus mempertimbangkan alasan ini untuk sekadar bertamu ke rumah Yakheus. Tapi, yang alasan yang utama adalah Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia datang ke rumah Yakheus karena Dia ingin mencari dan menyelamatkan yang hilang. Yesus tetap membuat pilihan itu meski Dia tahu resiko apa yang bakal dia terima.

Pilihan Yang Sulit

            Pada Zita (Ziarah Iman Taize) di Jogja kali ini mengusung tema “Memilih Mencintai, Memilih Berpengharapan”. Ternyata, hal yang sama juga terjadi. Dari berbagai obrolan dengan teman-teman peserta Zita, saya menyimpulkan mereka mengalami kesulitan ketika mereka dihadapkan pada banyaknya pilihan-pilihan dalam hidup mereka. Sama halnya seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, sebelum memilih mereka terlebih dahulu mempertimbangkan berbagai macam aspek dan alasan. Namun, tidak banyak juga yang pada akhirnya menyadari bahwa pilihan mereka salah.

Dalam peziarahan kali ini, saya dan teman-teman peserta yang saya temui merasa tertantang untuk berbuat lebih baik lagi, sesuai dengan tema Zita kali ini. Kami memulai obrolan kecil kami dari mendefinisikan apa arti memilih mencintai dan berpengharapan. Banyak sekali contoh yang muncul. Kebanyakan berasal dari kisah Yesus, termasuk juga tentang Yakheus. Hal yang menarik dari cerita-cerita tersebut adalah ada proses yang lama sebelum akhirnya menentukan pilihan. Seperti apa yang diceritakan oleh bu Dewi ketika dia memutuskan untuk berbagi dengan tetangganya yang dia benci selama bertahun-tahun. Pada suatu ketika, tetangganya ini jatuh sakit dan mengalami kesulitan keuangan. Bu Dewi merasa tergerak untuk menolong, tapi seakan ada dilema dalam hatinya yang menghalanginya untuk menolong tetangganya itu. Yang saya cermati bagaimana bu Dewi mengalami pergolakan sebelum akhirnya menentukan pilihan. “Ternyata, memilih memang susah ya!” ujar bu Dewi.

Perubahan. Ya, kita harus mau berubah ketika kita memilih untuk mencintai dan berpengharapan. Zakheus mau berubah ketika Yesus memutuskan datang ke rumahnya. Bu Dewi merubah pandangannya tentang tetangganya ketika dia memutuskan untuk menolongnya. Ada tiga perubahan yang harus kita lewati sebelum akhirnya kita memutuskan untuk memilih. Pertama, perubahan pada perasaan kita. Pada awalnya mungkin bu Dewi merasa jengkel atau marah kepada tetangganya itu, namun bu Dewi mau merubah perasaannya menjadi kasih dan sayang ketika dia menolongnya. Kita harus mau merubah perasaan dan pengalaman kita saat rasa jengkel, dengki, dendam dan sebagainya menjadi rasa kasih dan sayang. Kedua, perubahan pola pikir. Kita mungkin mempunyai pendapat yang dulu kita sadari sebagai yang benar, tapi sekarang kita menemukan pendapat yang sekarang kita yakini benar. Ketiga, yang menurut saya paling penting, perubahan sikap. Kadang kita tidak sadar ketika kita bersikap acuh tak acuh kepada sesama atau bahkan Tuhan. Perubahan itu bisa kita rasakan ketika kita mulai merasa menjadi seorang pribadi yang selalu prihatin terhadap kebutuhan orang lain, terutama yang menderita. Atau ketika kita mulai merasa terdorong untuk berkomunikasi secara intens personal dengan Tuhan.

Akhirnya, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing apakah mau berubah atau tidak. Yang jelas memilih untuk mencintai dan berpengharapan itu memang sulit bin susah. Sayapun sedang belajar untuk mengalami perubahan-perubahan itu. Harapannya nanti saya akan mampu berkata, “Ternyata, memilih itu memang mudah ya!”

(Don’t) Leave Me Alone!

(Don’t) Leave Me Alone!

Menemukan Arti Sebuah Kebersamaan

Kesedihan yang teramat mendalam, seperti karena orang yang kita cintai telah tiada kerap kali menyebabkan orang ingin menyendiri. Seperti siang itu saya bertemu dengan seorang teman yang sedang mengalami kesedihan. Dia baru saja diputus oleh pacarnya. Ketika saya mau mendekatinya, iapun berkata, “Biarkan aku sendiri dulu ya!” Orang yang sedang dirundung kesedihan sering mengungkapkan, implisit atau eksplisit, “Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku!” Dia seakan-akan yakin bahwa dengan berada sendirian dia akan menemukan kembali keceriaannya. Mungkin dengan kesendiriannya, dia malah ingin menikmati cekaman kesedihan itu. Apapun alasannya, pokoknya, ingin sendiri!

Saya menemukan hal yang sama ketika saya membaca kisah tentang dua orang murid dari Emaus saat mereka memisahkan diri dari rombongan peziarah yang merayakan paskah di Yerusalem. Mereka mengalami kekecewaan yang teramat berat ketika mereka tahu bahwa Tuhan yang selama ini mereka elu-elukan tiga hari yang lalu terpaku di kayu salib dan mati. Demikian juga harapan mereka. Harapan mereka dihapus oleh kematian Yesus. Intinya, mereka kecewa berat! Nah, karena alasan inilah mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah dari kelompok peziarah yang lain dan pulang ke Emaus.

Ternyata, Yesus yang telah bangkit tidak membiarkan mereka berjalan sendirian. Dia mendampingi mereka dalam perjalanan. Dari kisah tersebut, kita mengetahui apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk mendampingi orang-orang patah hati seperti mereka ini. Menurut Rm. Adrianus Pristiono, O.Carm, setidaknya ada empat langkah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Langkah pertama, Yesus meminta mereka menceritakan kembali peristiwa yang membuat mereka sedih. Cara ini adalah langkah pertama untuk meghadapi orang yang sedang patah hati. Dengan mengulang ceritanya, diharapkan mereka akan menyadari kekonyolan orang yang terus larut dalam kesedihan mereka. Perasaan mereka harus disalurkan melalui apa yang mereka ceritakan. Jika tidak, mereka akan terus berkubang dalam kesedihan dan seakan-akan membuat rumah bagi si jahat. Si jahat inilah yang akan mendorong kita untuk terus bersedih, patah hati dan akhirnya meninggalkan semua karya hidup kita. Wah, bahaya kan! Apalagi Tuhan sangat benci orang yang gampang menyerah dan berhenti berjuang. Lebih baik kita merenung dan berbuat lebih baik daripada terus menerus meratapi apa yang telah terjadi.

Langkah kedua, menyadari kebenaran sabda Tuhan dalam Kitab Suci. Yesus membangkitkan kedua murid dari Emaus itu dengan mengingatkan mereka akan kebenaran firman Tuhan dalam Kitab Suci. Yesus membangunkan mereka dari kekeliruan mereka tentang Mesias, yang selama ini mereka percayai. Yesus juga menunjukkan bahwa mereka jangan terlalu membebani diri mereka dengan haraan yang keliru. Mesias harus menempuh jalan cinta panjang yang penuh derita, dengan memenggul salib pada pundaknya. Mesias mau menangggung realitas penderitaan yang merupakan satu kesatuan dari hidup sebagai manusia. Kedua murid itu tersadar sekaligus terhibur oleh kata-kata Tuhan, Firman Tuhan sendiri!

Langkah ketiga, perlahan-lahan mulai meninggalkan mereka. Lho kok? Begaimana bisa?  Apa maksudnya? Seperti apa yang Yesus lakukan, berpura-pura meneruskan perjalanan dan meninggalkan mereka. Intinya, kita harus ‘menjaga jarak’ dengan orang yang kita dampingi agar mereka tidak sepenuhnya bergantung kepeda kita. Yesus hanya membantu menemukan jalan keluar yang terbaik. Menjaga jarak bukan berarti meninggalkan sama sekali. Menjaga jarak hanyalah satu sikap untuk mendidik orang yang patah hati agar mereka menjadi dewasa dalam menghadapi persoalan. In short, jadi orang yang mandiri gitu loh!

Langkah keempat, tidak menolak tawaran baik mereka. Langkah ini menjadi penting untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka yang baru mengalami patah hati, kecewa atau frustasi. Poin pentingnya adalah memberikan kepercayaan diri bahwa mereka pun bisa berguna bagi orang lain.

Dari berbagai sharing dengan teman-teman peserta Zita (Ziarah Iman Taize) Jogja, kebanyakan dari mereka melakukan peziarahan ini untuk menemukan kembali Yesus, sama ketika kedua murid dari Emaus menemukan Yesus dalam perjalanan mereka. Teman-teman peserta ini merasa seringkali dalam hidup mereka mengalami hal-hal yang membuat mereka kecewa, sedih, atau bahkan frustasi. Persamaan diantara mereka adalah kesendirian ternyata tidak memberikan solusi, bahkan membuat mereka lebih tertekan. Oleh karenanya, mereka ingin kembali menemukan Yesus dalam kebersamaan.

Semula tulisan ini saya buat sebagai refleksi atas apa yang saya dapatkan selama berproses dengan teman-teman peserta Zita, namun alangkah baiknya saya juga ingin merefleksikan apa yang terjadi di negeri kita selama akhir tahun 2007 ini. Bencana tak kunjung bosan juga datang ke negeri kita tercinta ini. Yang paling baru adalah bencana longsor dan banjir di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika membuat tulisan ini, saya hanya bisa membayangkan betapa sedih, kecewa, marah dan frustasinya para korban bencana ini. Bahkan takterbayangkan betapa dalam penderitaan yang harus mereka alami. Menjadi sebuah permenungan juga bagi saya ketika memikirkan hal ini. Apa yang harus saya lakukan ketika saya berada dalam kondisi yang demikian? Paling tidak ada dua jawaban yang saya dapatkan. Pertama, mengajak Yesus untuk tetap tinggal bersama kita. Jika kita berjuang sendiri, terlalu berat kiranya, beban hidup seperti itu kita tanggung. Namun, bersama Tuhan, apa yang semula terasa berat, menjadi amat ringan. Seperti apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita, “ Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

Kedua, mengadakan perjamuan makan bersama. Ih bodoh ya, masa banjir-banjir ada perjamuan makan bersama?Aneh! Hal itu yang sempat terlintas dalam pikiran saya, tapi ada poin penting disini. Perjamuan makan bukan sekadar mengisi perut, tapi mengingatkan kita akan kebersamaan dengan orang lain. Jika pada kondisi biasa mungkin kita amat jarang mengalami kebersamaan dengan orang lain. Dengan adanya perjamuan ini, kita diajak untuk kembali bersama dengan orang lain. Ya, kebersamaan dengan sesama dan khususnya dengan Tuhan sendiri.

Pada akhirnya, jika kita mulai merasa lelah dalam hidup kita, berhentilah sejenak dan mulai berdoa, “Tuhan, tinggallah bersamaku.” Kesendirian bukanlah jawaban atas kesedihan yang kita alami. Bukan pula alasan untuk meninggalkan Tuhan dan sesama melainkan menjadi energi untuk kembali melayani Tuhan dan membantu sesama kita, khusunya yang sedang menderita. Tinggallah bersama kami, ya Tuhan. Amin

O o, Aku Ketahuan…!

O o, Aku Ketahuan…!

Menggali Makna Sebuah Garis Hidup

Judul di atas sekilas mengingatkan kita pada judul lagu milik Matta band yang sedang naik daun itu. Bukan berarti saya penggemar atau fans band itu. Bukan pula ingin mengingatkan saya tentang pengalaman dengan seorang gadis dulu (meski agak mirip sih, dikit…). Yang jelas lagu ini mengingatkan saya ketika saya “belajar” membuat garis hidup saya. Hal itu juga yang mengantar saya pada permenungan tentang garis hidup dan makna dibalik itu semua.

Kesedihan yang terlupakan

            Wonosobo, Bojonegoro dan daerah-daerah lain disekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan beberapa tempat yang amat menusuk hati nurani di akhir 2007 ini. Bagaimana tidak setelah bencana banjir datang, tanpa diundang bencana longsor pun hadir. Di depan keganasan alam seperti ini, apapun yang dimiliki manusia-dari kekayaan, pengetahuan, kebaikan bahkan kejahatan-tidak berarti apa-apa. Jika melihat tayangan di televisi, koran, majalah atau internet, semuanya bermuara pada satu titik: hari yang robek dan terluka. Reaksi apapun yang keluar, dari marah, geram, kecewa, sedih sampai pasrah total tetap tidak bisa mengubur emosi-emosi hati.

Ada yang menangis, ada yang bertobat, ada pula yang baru sadar betapa pentingnya berdoa dan bersembahyang. Bagi yang memiliki uang menyumbangkan uang, bagi yang memiliki barang berbagi barang, mereka yang hanya mempunyai tenaga dan pikiran bekerja sama sebagai relawan. Sementara, mereka yang tidak bisa hadir untuk memberikan semangat langsung, melalui telepon dan alat komunikasi lainnya berlomba-lomba mengirimkan simpati dan empati mereka kepada korban.

Meskipun sudah banyak dilakukan tetap tidak bisa mengobati bagian hati yang terlanjur robek dan terluka. Semakin banyak banyak berita yang dibaca, semakin banyak telinga yang mendengar berita, semakin banyak mulut mengucapkan berita ini, semakin banyak pula hati yang akan terluka. Bukan soal manusianya. Bukan pula soal kerusakan, baik itu material atau immaterial. Bukan, bukan itu. Saya membayangkan ini seperti jeritan yang tak terdengar atau tangisan dari mata yang tidak pernah menangis.

Saya pun mulai bertanya pada diri saya sendiri. Apakah saya pernah mengalami kondisi seperti itu?Lalu bagaimana dan apa yang terjadi? Jawabannya seperti ini. Yang terjadi kemudian saya mulai menolak dan mengasingkan pengalaman ini jauh ke dalam lubuk hati. Ada yang menyebut pengalaman ini dengan sebutan cengeng. Ada juga yang memberi nama kesedihan yang amat mendalam. Yang lain memberi nama kurang tegar. Eh, entahlah, kadang sebutan itu memang membantu tapi kadang justru membebani saya. Saat semua hal itu mulai menjadi beban, perlahan tapi pasti pengalaman itu saya lupakan. Kata Matta band, saya mulai “berselingkuh” dengan pengalaman-pengalaman saya yang jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan.

Eh, aku ketahuan!

            Sekian lama saya berada dalam romantisme kenangan-kenangan manis saya di masa lalu dan meninggalkan yang “cengeng”. Namun, ketika saya membuat garis hidup, sesuatu yang membuat saya harus mulai me-recall semua memori di masa lalu, saya mulai menyadari satu hal. Ups, aku ternyata ketahuan! Ternyata, selama ini saya kerap kali “berselingkuh” dengan kenangan manis dan meninggalkan kenangan pahit saya. Nah, sekarang kami bertemu kembali dan yang jelas saya harus bisa menghadapinya.

Ada poin penting ketika saya ketahuan “berselingkuh” dan harus berhadapan kembali dengan kenangan-kenangan pahit saya. Hal itu membuat saya belajar tentang satu hal. Sedikit sekali jumlah manusia yang memiliki pengalaman tangan pertama diterjang badai ganas kehidupan. Lebih sedikit lagi yang mau menempatkan badai ganas tadi sebagai vitamin-vitamin kehidupan. Saya sebut sebagai vitamin kehidupan karena badai ganas kehidupan ini sebenarnya (apa iya?) sedang hadir sebagai bagian dan upaya memperkuat manusia. Sama halnya seperti otot-otot manusia. Bila ia tidak digunakan, tidak pernah dicoba dan hanya tidur sepanjang waktu, lama-lama ototnya lemah dan lumpuh.

Ini yang menjadi pelajaran penting bagi saya. Sama juga seperti otot-otot dalam jiwa manusia. Badai ganas kehidupan, seperti perasaan kecewa marah dan dendam terhadap orang tua, ditinggal pergi oleh orang yang dikasihi, dikucilkan atau menjadi korban bencana, sebenarnya hadir menjadi latihan bagi manusia supaya menjadi manusia yang kuat dan berotot. Bila perspektif ini yang kita pakai, bukan hil yang mustahal (kata pak Nurbuat) ketika anak korban bencana menjadi tokoh masyarakat yang sukses dan disegani. Atau seorang anak yang kedua orang tuanya meninggal dunia, tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang penuh kasih dan sayang. Bukan karena apa-apa, melainkan karena pernah mengalami kenangan pahitnya sendiri, dan yang paling penting berani menghadapinya.

Belajar menjadi kuat

            Sayapun mulai bertanya-tanya, apakah semua manusia yang diterjang badai ganas kehidupan akan menjadi kuat. Pertanyaan lagi, pertanyaan lagi. Kali ini saya menemukan jawabannya dalam sebuah kelompok yang namanya cukup aneh: Magis. Sekian lama saya mencoba menemukan jawabannya lewat pengetahuan yang saya miliki, namun semua itu sia-sia. Ternyata jawabannya hanya SS. Bukan Sabu-sabu, salah satu jenis narkotika itu lho. Tapi  silent and surrender. Hening dan ikhlas. Saya (atau lebih tepatnya sedang belajar) menemukan kedua hal tersebut di Magis.

Akhirnya, saya senang ketika saya “ketahuan” juga. Senang akhirnya saya bisa belajar menghadapi kenangan pahit dalam hidup saya dan mulai percaya bahwa semua itu adalah vitamin-vitamin kehidupan yang akan membantu saya berkembang, meski beberapa ada yang pahit. Senang akhirnya bisa belajar untuk bisa hening dan ikhlas. Senang akhirnya bisa mulai mengerjakan garis hidup. Mudah-mudahan saya tidak “ketahuan” lagi, he..he..he…

Ad Maiorem Dei Gloriam