(Don’t) Leave Me Alone!

(Don’t) Leave Me Alone!

Menemukan Arti Sebuah Kebersamaan

Kesedihan yang teramat mendalam, seperti karena orang yang kita cintai telah tiada kerap kali menyebabkan orang ingin menyendiri. Seperti siang itu saya bertemu dengan seorang teman yang sedang mengalami kesedihan. Dia baru saja diputus oleh pacarnya. Ketika saya mau mendekatinya, iapun berkata, “Biarkan aku sendiri dulu ya!” Orang yang sedang dirundung kesedihan sering mengungkapkan, implisit atau eksplisit, “Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku!” Dia seakan-akan yakin bahwa dengan berada sendirian dia akan menemukan kembali keceriaannya. Mungkin dengan kesendiriannya, dia malah ingin menikmati cekaman kesedihan itu. Apapun alasannya, pokoknya, ingin sendiri!

Saya menemukan hal yang sama ketika saya membaca kisah tentang dua orang murid dari Emaus saat mereka memisahkan diri dari rombongan peziarah yang merayakan paskah di Yerusalem. Mereka mengalami kekecewaan yang teramat berat ketika mereka tahu bahwa Tuhan yang selama ini mereka elu-elukan tiga hari yang lalu terpaku di kayu salib dan mati. Demikian juga harapan mereka. Harapan mereka dihapus oleh kematian Yesus. Intinya, mereka kecewa berat! Nah, karena alasan inilah mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah dari kelompok peziarah yang lain dan pulang ke Emaus.

Ternyata, Yesus yang telah bangkit tidak membiarkan mereka berjalan sendirian. Dia mendampingi mereka dalam perjalanan. Dari kisah tersebut, kita mengetahui apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk mendampingi orang-orang patah hati seperti mereka ini. Menurut Rm. Adrianus Pristiono, O.Carm, setidaknya ada empat langkah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Langkah pertama, Yesus meminta mereka menceritakan kembali peristiwa yang membuat mereka sedih. Cara ini adalah langkah pertama untuk meghadapi orang yang sedang patah hati. Dengan mengulang ceritanya, diharapkan mereka akan menyadari kekonyolan orang yang terus larut dalam kesedihan mereka. Perasaan mereka harus disalurkan melalui apa yang mereka ceritakan. Jika tidak, mereka akan terus berkubang dalam kesedihan dan seakan-akan membuat rumah bagi si jahat. Si jahat inilah yang akan mendorong kita untuk terus bersedih, patah hati dan akhirnya meninggalkan semua karya hidup kita. Wah, bahaya kan! Apalagi Tuhan sangat benci orang yang gampang menyerah dan berhenti berjuang. Lebih baik kita merenung dan berbuat lebih baik daripada terus menerus meratapi apa yang telah terjadi.

Langkah kedua, menyadari kebenaran sabda Tuhan dalam Kitab Suci. Yesus membangkitkan kedua murid dari Emaus itu dengan mengingatkan mereka akan kebenaran firman Tuhan dalam Kitab Suci. Yesus membangunkan mereka dari kekeliruan mereka tentang Mesias, yang selama ini mereka percayai. Yesus juga menunjukkan bahwa mereka jangan terlalu membebani diri mereka dengan haraan yang keliru. Mesias harus menempuh jalan cinta panjang yang penuh derita, dengan memenggul salib pada pundaknya. Mesias mau menangggung realitas penderitaan yang merupakan satu kesatuan dari hidup sebagai manusia. Kedua murid itu tersadar sekaligus terhibur oleh kata-kata Tuhan, Firman Tuhan sendiri!

Langkah ketiga, perlahan-lahan mulai meninggalkan mereka. Lho kok? Begaimana bisa?  Apa maksudnya? Seperti apa yang Yesus lakukan, berpura-pura meneruskan perjalanan dan meninggalkan mereka. Intinya, kita harus ‘menjaga jarak’ dengan orang yang kita dampingi agar mereka tidak sepenuhnya bergantung kepeda kita. Yesus hanya membantu menemukan jalan keluar yang terbaik. Menjaga jarak bukan berarti meninggalkan sama sekali. Menjaga jarak hanyalah satu sikap untuk mendidik orang yang patah hati agar mereka menjadi dewasa dalam menghadapi persoalan. In short, jadi orang yang mandiri gitu loh!

Langkah keempat, tidak menolak tawaran baik mereka. Langkah ini menjadi penting untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka yang baru mengalami patah hati, kecewa atau frustasi. Poin pentingnya adalah memberikan kepercayaan diri bahwa mereka pun bisa berguna bagi orang lain.

Dari berbagai sharing dengan teman-teman peserta Zita (Ziarah Iman Taize) Jogja, kebanyakan dari mereka melakukan peziarahan ini untuk menemukan kembali Yesus, sama ketika kedua murid dari Emaus menemukan Yesus dalam perjalanan mereka. Teman-teman peserta ini merasa seringkali dalam hidup mereka mengalami hal-hal yang membuat mereka kecewa, sedih, atau bahkan frustasi. Persamaan diantara mereka adalah kesendirian ternyata tidak memberikan solusi, bahkan membuat mereka lebih tertekan. Oleh karenanya, mereka ingin kembali menemukan Yesus dalam kebersamaan.

Semula tulisan ini saya buat sebagai refleksi atas apa yang saya dapatkan selama berproses dengan teman-teman peserta Zita, namun alangkah baiknya saya juga ingin merefleksikan apa yang terjadi di negeri kita selama akhir tahun 2007 ini. Bencana tak kunjung bosan juga datang ke negeri kita tercinta ini. Yang paling baru adalah bencana longsor dan banjir di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika membuat tulisan ini, saya hanya bisa membayangkan betapa sedih, kecewa, marah dan frustasinya para korban bencana ini. Bahkan takterbayangkan betapa dalam penderitaan yang harus mereka alami. Menjadi sebuah permenungan juga bagi saya ketika memikirkan hal ini. Apa yang harus saya lakukan ketika saya berada dalam kondisi yang demikian? Paling tidak ada dua jawaban yang saya dapatkan. Pertama, mengajak Yesus untuk tetap tinggal bersama kita. Jika kita berjuang sendiri, terlalu berat kiranya, beban hidup seperti itu kita tanggung. Namun, bersama Tuhan, apa yang semula terasa berat, menjadi amat ringan. Seperti apa yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita, “ Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

Kedua, mengadakan perjamuan makan bersama. Ih bodoh ya, masa banjir-banjir ada perjamuan makan bersama?Aneh! Hal itu yang sempat terlintas dalam pikiran saya, tapi ada poin penting disini. Perjamuan makan bukan sekadar mengisi perut, tapi mengingatkan kita akan kebersamaan dengan orang lain. Jika pada kondisi biasa mungkin kita amat jarang mengalami kebersamaan dengan orang lain. Dengan adanya perjamuan ini, kita diajak untuk kembali bersama dengan orang lain. Ya, kebersamaan dengan sesama dan khususnya dengan Tuhan sendiri.

Pada akhirnya, jika kita mulai merasa lelah dalam hidup kita, berhentilah sejenak dan mulai berdoa, “Tuhan, tinggallah bersamaku.” Kesendirian bukanlah jawaban atas kesedihan yang kita alami. Bukan pula alasan untuk meninggalkan Tuhan dan sesama melainkan menjadi energi untuk kembali melayani Tuhan dan membantu sesama kita, khusunya yang sedang menderita. Tinggallah bersama kami, ya Tuhan. Amin

One response to “(Don’t) Leave Me Alone!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s