O o, Aku Ketahuan…!

O o, Aku Ketahuan…!

Menggali Makna Sebuah Garis Hidup

Judul di atas sekilas mengingatkan kita pada judul lagu milik Matta band yang sedang naik daun itu. Bukan berarti saya penggemar atau fans band itu. Bukan pula ingin mengingatkan saya tentang pengalaman dengan seorang gadis dulu (meski agak mirip sih, dikit…). Yang jelas lagu ini mengingatkan saya ketika saya “belajar” membuat garis hidup saya. Hal itu juga yang mengantar saya pada permenungan tentang garis hidup dan makna dibalik itu semua.

Kesedihan yang terlupakan

            Wonosobo, Bojonegoro dan daerah-daerah lain disekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur, merupakan beberapa tempat yang amat menusuk hati nurani di akhir 2007 ini. Bagaimana tidak setelah bencana banjir datang, tanpa diundang bencana longsor pun hadir. Di depan keganasan alam seperti ini, apapun yang dimiliki manusia-dari kekayaan, pengetahuan, kebaikan bahkan kejahatan-tidak berarti apa-apa. Jika melihat tayangan di televisi, koran, majalah atau internet, semuanya bermuara pada satu titik: hari yang robek dan terluka. Reaksi apapun yang keluar, dari marah, geram, kecewa, sedih sampai pasrah total tetap tidak bisa mengubur emosi-emosi hati.

Ada yang menangis, ada yang bertobat, ada pula yang baru sadar betapa pentingnya berdoa dan bersembahyang. Bagi yang memiliki uang menyumbangkan uang, bagi yang memiliki barang berbagi barang, mereka yang hanya mempunyai tenaga dan pikiran bekerja sama sebagai relawan. Sementara, mereka yang tidak bisa hadir untuk memberikan semangat langsung, melalui telepon dan alat komunikasi lainnya berlomba-lomba mengirimkan simpati dan empati mereka kepada korban.

Meskipun sudah banyak dilakukan tetap tidak bisa mengobati bagian hati yang terlanjur robek dan terluka. Semakin banyak banyak berita yang dibaca, semakin banyak telinga yang mendengar berita, semakin banyak mulut mengucapkan berita ini, semakin banyak pula hati yang akan terluka. Bukan soal manusianya. Bukan pula soal kerusakan, baik itu material atau immaterial. Bukan, bukan itu. Saya membayangkan ini seperti jeritan yang tak terdengar atau tangisan dari mata yang tidak pernah menangis.

Saya pun mulai bertanya pada diri saya sendiri. Apakah saya pernah mengalami kondisi seperti itu?Lalu bagaimana dan apa yang terjadi? Jawabannya seperti ini. Yang terjadi kemudian saya mulai menolak dan mengasingkan pengalaman ini jauh ke dalam lubuk hati. Ada yang menyebut pengalaman ini dengan sebutan cengeng. Ada juga yang memberi nama kesedihan yang amat mendalam. Yang lain memberi nama kurang tegar. Eh, entahlah, kadang sebutan itu memang membantu tapi kadang justru membebani saya. Saat semua hal itu mulai menjadi beban, perlahan tapi pasti pengalaman itu saya lupakan. Kata Matta band, saya mulai “berselingkuh” dengan pengalaman-pengalaman saya yang jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan.

Eh, aku ketahuan!

            Sekian lama saya berada dalam romantisme kenangan-kenangan manis saya di masa lalu dan meninggalkan yang “cengeng”. Namun, ketika saya membuat garis hidup, sesuatu yang membuat saya harus mulai me-recall semua memori di masa lalu, saya mulai menyadari satu hal. Ups, aku ternyata ketahuan! Ternyata, selama ini saya kerap kali “berselingkuh” dengan kenangan manis dan meninggalkan kenangan pahit saya. Nah, sekarang kami bertemu kembali dan yang jelas saya harus bisa menghadapinya.

Ada poin penting ketika saya ketahuan “berselingkuh” dan harus berhadapan kembali dengan kenangan-kenangan pahit saya. Hal itu membuat saya belajar tentang satu hal. Sedikit sekali jumlah manusia yang memiliki pengalaman tangan pertama diterjang badai ganas kehidupan. Lebih sedikit lagi yang mau menempatkan badai ganas tadi sebagai vitamin-vitamin kehidupan. Saya sebut sebagai vitamin kehidupan karena badai ganas kehidupan ini sebenarnya (apa iya?) sedang hadir sebagai bagian dan upaya memperkuat manusia. Sama halnya seperti otot-otot manusia. Bila ia tidak digunakan, tidak pernah dicoba dan hanya tidur sepanjang waktu, lama-lama ototnya lemah dan lumpuh.

Ini yang menjadi pelajaran penting bagi saya. Sama juga seperti otot-otot dalam jiwa manusia. Badai ganas kehidupan, seperti perasaan kecewa marah dan dendam terhadap orang tua, ditinggal pergi oleh orang yang dikasihi, dikucilkan atau menjadi korban bencana, sebenarnya hadir menjadi latihan bagi manusia supaya menjadi manusia yang kuat dan berotot. Bila perspektif ini yang kita pakai, bukan hil yang mustahal (kata pak Nurbuat) ketika anak korban bencana menjadi tokoh masyarakat yang sukses dan disegani. Atau seorang anak yang kedua orang tuanya meninggal dunia, tumbuh dan berkembang menjadi seorang yang penuh kasih dan sayang. Bukan karena apa-apa, melainkan karena pernah mengalami kenangan pahitnya sendiri, dan yang paling penting berani menghadapinya.

Belajar menjadi kuat

            Sayapun mulai bertanya-tanya, apakah semua manusia yang diterjang badai ganas kehidupan akan menjadi kuat. Pertanyaan lagi, pertanyaan lagi. Kali ini saya menemukan jawabannya dalam sebuah kelompok yang namanya cukup aneh: Magis. Sekian lama saya mencoba menemukan jawabannya lewat pengetahuan yang saya miliki, namun semua itu sia-sia. Ternyata jawabannya hanya SS. Bukan Sabu-sabu, salah satu jenis narkotika itu lho. Tapi  silent and surrender. Hening dan ikhlas. Saya (atau lebih tepatnya sedang belajar) menemukan kedua hal tersebut di Magis.

Akhirnya, saya senang ketika saya “ketahuan” juga. Senang akhirnya saya bisa belajar menghadapi kenangan pahit dalam hidup saya dan mulai percaya bahwa semua itu adalah vitamin-vitamin kehidupan yang akan membantu saya berkembang, meski beberapa ada yang pahit. Senang akhirnya bisa belajar untuk bisa hening dan ikhlas. Senang akhirnya bisa mulai mengerjakan garis hidup. Mudah-mudahan saya tidak “ketahuan” lagi, he..he..he…

Ad Maiorem Dei Gloriam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s