Ternyata, Memilih itu Susah!

Ternyata, Memilih itu Susah!

Catatan Kecil Seorang Peziarah

Tulisan ini bermula ketika saya membaca kisah tentang Yakheus, seorang kepala pemungut cukai di daerah Yerikho. Sebagai seorang kepala pemungut cukai, Zakheus bertugas mengumpulkan pajak yang telah ditetapkan oleh pemerintahan Romawi. Dalam beberapa bacaan disebutkan orang-orang semacam itu dibenci dan dihina karena mereka suka memungut pajak melebihi yang wajib atau dengan kata lain mereka suka memeras masyarakat.

Nah, ini bagian yang menurut saya cukup aneh. Terhadap orang seperti itu, Yesus masih mau datang untuk bertamu ke rumah Zakheus. Jika kita mau lihat lebih jauh, orang biasapun enggan untuk bertamu ke rumah yang masyarakat cap sebagai orang yang tidak baik. Mengapa Yesus senekat itu memilih untuk bertamu ke rumah kepala pemungut cukai? Padahal resikonya cukup besar. Bisa-bisa Yesus nanti dikucilkan oleh masyarakat.

Inilah yang mengantar saya pada permenungan tentang bagaimana sulitnya menentukan sebuah pilihan. Ada banyak alasan mengapa Yesus berbuat seperti itu, misal karena Yakheus berbadan pendek dan ketika Yesus datang dia harus bersusah payah untuk naik ke atas pohon. Mungkin Yesus mempertimbangkan alasan ini untuk sekadar bertamu ke rumah Yakheus. Tapi, yang alasan yang utama adalah Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia datang ke rumah Yakheus karena Dia ingin mencari dan menyelamatkan yang hilang. Yesus tetap membuat pilihan itu meski Dia tahu resiko apa yang bakal dia terima.

Pilihan Yang Sulit

            Pada Zita (Ziarah Iman Taize) di Jogja kali ini mengusung tema “Memilih Mencintai, Memilih Berpengharapan”. Ternyata, hal yang sama juga terjadi. Dari berbagai obrolan dengan teman-teman peserta Zita, saya menyimpulkan mereka mengalami kesulitan ketika mereka dihadapkan pada banyaknya pilihan-pilihan dalam hidup mereka. Sama halnya seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, sebelum memilih mereka terlebih dahulu mempertimbangkan berbagai macam aspek dan alasan. Namun, tidak banyak juga yang pada akhirnya menyadari bahwa pilihan mereka salah.

Dalam peziarahan kali ini, saya dan teman-teman peserta yang saya temui merasa tertantang untuk berbuat lebih baik lagi, sesuai dengan tema Zita kali ini. Kami memulai obrolan kecil kami dari mendefinisikan apa arti memilih mencintai dan berpengharapan. Banyak sekali contoh yang muncul. Kebanyakan berasal dari kisah Yesus, termasuk juga tentang Yakheus. Hal yang menarik dari cerita-cerita tersebut adalah ada proses yang lama sebelum akhirnya menentukan pilihan. Seperti apa yang diceritakan oleh bu Dewi ketika dia memutuskan untuk berbagi dengan tetangganya yang dia benci selama bertahun-tahun. Pada suatu ketika, tetangganya ini jatuh sakit dan mengalami kesulitan keuangan. Bu Dewi merasa tergerak untuk menolong, tapi seakan ada dilema dalam hatinya yang menghalanginya untuk menolong tetangganya itu. Yang saya cermati bagaimana bu Dewi mengalami pergolakan sebelum akhirnya menentukan pilihan. “Ternyata, memilih memang susah ya!” ujar bu Dewi.

Perubahan. Ya, kita harus mau berubah ketika kita memilih untuk mencintai dan berpengharapan. Zakheus mau berubah ketika Yesus memutuskan datang ke rumahnya. Bu Dewi merubah pandangannya tentang tetangganya ketika dia memutuskan untuk menolongnya. Ada tiga perubahan yang harus kita lewati sebelum akhirnya kita memutuskan untuk memilih. Pertama, perubahan pada perasaan kita. Pada awalnya mungkin bu Dewi merasa jengkel atau marah kepada tetangganya itu, namun bu Dewi mau merubah perasaannya menjadi kasih dan sayang ketika dia menolongnya. Kita harus mau merubah perasaan dan pengalaman kita saat rasa jengkel, dengki, dendam dan sebagainya menjadi rasa kasih dan sayang. Kedua, perubahan pola pikir. Kita mungkin mempunyai pendapat yang dulu kita sadari sebagai yang benar, tapi sekarang kita menemukan pendapat yang sekarang kita yakini benar. Ketiga, yang menurut saya paling penting, perubahan sikap. Kadang kita tidak sadar ketika kita bersikap acuh tak acuh kepada sesama atau bahkan Tuhan. Perubahan itu bisa kita rasakan ketika kita mulai merasa menjadi seorang pribadi yang selalu prihatin terhadap kebutuhan orang lain, terutama yang menderita. Atau ketika kita mulai merasa terdorong untuk berkomunikasi secara intens personal dengan Tuhan.

Akhirnya, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing apakah mau berubah atau tidak. Yang jelas memilih untuk mencintai dan berpengharapan itu memang sulit bin susah. Sayapun sedang belajar untuk mengalami perubahan-perubahan itu. Harapannya nanti saya akan mampu berkata, “Ternyata, memilih itu memang mudah ya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s