Berikan dia Contoh!

M. Furqon Zahidi

jejak kakiJam di dinding masih menunjukkan pukul  Empat kurang seperempat ketika anak saya yang pertama, Faza, membangunkan saya,”Ayah mau sahur nggak?”katanya sambil menepuk punggung saya.

“Mau Kak,” jawab saya sambil mengucek mata. Saya pun segera bangkit dan cuci muka untuk mempersiapkan makan sahur. Kamipun makan sahur berdua, kadang bertiga dengan istri saya kalau sedang tidak berhalangan.

Begitulah aktifitas itu kami lakukan. Kadang saya yang membangunkan anak saya atau sebaliknya. Itu terjadi setiap Senin dan Kamis menjelang menjelang sahur.

“Kakak,  kenapa puasa Senin Kamis terus?” Tanya saya suatu ketika,”Kalaupun nggak puasa, nggak apa-apa. kan sunnah.”  Pertanyaan itu saya ungkapkan karena saya ingin menegaskan tentang hukum puasa Senin-Kamis. Saya tentu tidak ingin ia merasa terbebani dengan aktiftas tersebut. Ia harus tahu bahwa Sunnah itu bukan wajib. Sehingga kalaupun sesekali  ia meninggalkan tidaklah menjadi dosa.

“Nggak apa-apa. Aku pengen ngasih pahala buat ayah sama Bunda,” jawabnya pasti.

Saya peluk dia. Saya bisikkan dia,”Kakak, Ayah…

View original post 314 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s