Psikologi anak

My blog

Menghadapi perilaku anak yang aneh-aneh membuat orang tua pusing. Ketika melihat tingkah laku anak-anak yang lucu dan menggemaskan bisa membuat kita senang, tertawa dan bahagia. Namun kadang-kadang orang tua menjadi kewalahan menghadapi perilaku anak-anak kita yang sulit diatur dan maunya hanya mengikuti kemauannya sendiri. Bahkan seringkali orang tua

View original post 266 more words

Advertisements

Jangan Lupakan Bahasa Indonesia

Thoughts from Little Singapore

VH4rAlBeberapa waktu lalu The New York Times menulis artikel tentang ortu2 Indo yang hanya mengajarkan bahasa Inggris ke anak mereka, sehingga anak mereka tidak bisa berbahasa Indonesia (lihat artikelnya di sini). Saya lihat sendiri fenomena ini … saya punya kerabat yang lahir dan besar di Indonesia tapi tidak bisa berbahasa Indonesia.

Now … banyak ortu2 ini ingin bahasa Inggris anaknya bagus karena itu bahasa internasional … bahasa Inggris yang bagus akan membuka banyak kesempatan bagi anak. Dan saya setuju. Sebagai anak yang dibesarkan dalam lingkungan trilingual (saya fasih berbahasa Inggris, Indonesia dan Jawa ngoko), saya mendapat banyak pengalaman berharga yang teman2 saya tidak bisa dapatkan karena pada saat itu jarang anak2 bisa berbahasa Inggris.

Tapi tidak dengan mengorbankan bahasa Ibu. Kalau saat itu orang tua saya lebih mementingkan bahasa Inggris, saya tidak bisa berkomunikasi dengan oma opa, banyak tante om dan sepupu saya. Hubungan saya dengan keluarga besar…

View original post 409 more words

Ruang Tunggu Bandara

ineeddini

Aku takut sekali menulis tentangmu. Tentang kita.
Karena ada yang terkoyak setiap kali penaku menyentuh kertas dan menulis guratan kisah kita.
Karena ada yang meledak-ledak di dalam dada setiap kali kusentuh layar telepon genggamku untuk menceritakan cinta yang tak lagi bersuara.

Aku takut badanku menjadi kaku dan membiru, mengingat sepasang sepatu dan jaket yang kau kenakan pagi itu.
Pagi di mana aku mengucap doa dan meminta kepada Semesta “Tuhan, bolehkah ini saja? Bolehkah aku meminta dia orangnya? Akhir dari semua pencarian dan derita?”

Aku takut tenggorokanku tercekat dan sedih perlahan-lahan merambat.
Seperti saat ini.
Ketika pandanganku mulai mengabur dan air mataku perlahan turun.
Hanya karena aku menulis tentang kita, ‘kita’ yang tak lagi ada.

Di saat seperti ini, aku ingin berteriak kepadamu dan memakimu dengan sekuat tenaga.
Mengumpulkan seluruh amarah yang tersisa dan meradang di hadapanmu.
Supaya kamu tahu seberapa besar ini semua dalam satuan luka.
Supaya kamu melihat dengan…

View original post 50 more words