Ruang Tunggu Bandara

ineeddini

Aku takut sekali menulis tentangmu. Tentang kita.
Karena ada yang terkoyak setiap kali penaku menyentuh kertas dan menulis guratan kisah kita.
Karena ada yang meledak-ledak di dalam dada setiap kali kusentuh layar telepon genggamku untuk menceritakan cinta yang tak lagi bersuara.

Aku takut badanku menjadi kaku dan membiru, mengingat sepasang sepatu dan jaket yang kau kenakan pagi itu.
Pagi di mana aku mengucap doa dan meminta kepada Semesta “Tuhan, bolehkah ini saja? Bolehkah aku meminta dia orangnya? Akhir dari semua pencarian dan derita?”

Aku takut tenggorokanku tercekat dan sedih perlahan-lahan merambat.
Seperti saat ini.
Ketika pandanganku mulai mengabur dan air mataku perlahan turun.
Hanya karena aku menulis tentang kita, ‘kita’ yang tak lagi ada.

Di saat seperti ini, aku ingin berteriak kepadamu dan memakimu dengan sekuat tenaga.
Mengumpulkan seluruh amarah yang tersisa dan meradang di hadapanmu.
Supaya kamu tahu seberapa besar ini semua dalam satuan luka.
Supaya kamu melihat dengan…

View original post 50 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s