Keputusasaan dan Iman

Melampaui Psikologi : Psikologi Katolik

oleh : Felix Lengkong, Ph.D*

“Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan”

Dalam sebuah diskusi baru-baru ini seorang romo pembimbing para frater (calon pastur) di Manado berkata :”Putus asa kadang melekat dengan kehidupan kita dan kita terlibat di dalamnya”

“Secara tidak sengaja,” ia melanjutkan, “saya membuka tulisan tentang putus asa dalam Ensiklopedi Gereja.” Disitu tertulis, “Putus asa merupakan kejahatan besar terhadap Bapa yang Maharahim. Pengalaman menunjukkan bahwa kecenderungan seseorang untuk putus asa dapat membahayakan kesehatan jasmani dan mental dan tidak jarang menyebabkan seseorang menjerumuskan diri ke aneka kejahatan. Cukup banyak orang beriman merasa tidak dikasihani Allah, karena kurang beruntung dibandingkan orang lain. Maka, mereka menjauhi Allah. Sikap seperti ini berbahaya untuk iman.”

Antara Psikologi/Psikoterapi dan Teologi/Religiositas

View original post 1,248 more words

Mengenal Allah, Mengenal diri Sendiri

Melampaui Psikologi : Psikologi Katolik

Pengantar

Tulisan ini saya beri judul Mengenal Allah, Mengenal Diri Sendiri. Dengan mengenal Allah, diharapkan kita menjadi sadar seperti apa diri kita sekarang, dan semoga kita semakin menyadari bahwa kita dipanggil untuk menjadi sempurna, seperti Bapa yang adalah sempurna. Dan Bapa telah memberikan kita contoh yang sempurna, dengan mengutus putra-Nya ke dunia, yaitu Yesus.

=====================================

Sebaiknya saya menjadi pribadi yang seperti apa? Pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas di dalam benak anda. Tulisan saya berikut ini adalah hasil refleksi saya terhadap pertanyaan tersebut.

Dalam psikologi kepribadian, aliran humanistik Carl Rogers, ada yang namanya real self (diri yang nyata) dan ideal self (diri yang diharapkan). Seringkali perbedaan atau jarak yang besar antara real self dan ideal self ini dapat membuat orang stres, memiliki gambaran yang buruk terhadap dirinya karena diri yang nyatga tidak mampu menjadi ideal self seperti yang diharapkan orang lain (orang tua, teman, dst) dengan segala tuntutan dan harapan…

View original post 688 more words

True Love : What Should We Know about It.

Melampaui Psikologi : Psikologi Katolik

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan… (1 Kor 13 : 4-8)

14 Februari adalah hari Valentine atau hari kasih sayang dimana manusia saling mengekspresikan cintanya melalui berbagai bentuk, entah itu coklat, puisi, mawar serta berbagai ungkapan cinta lainnya. Namun sayangnya hari kasih sayang ini tidak diikuti dengan pemahaman yang tepat akan cinta, khususnya cinta yang sejati. Bukan tidak mungkin bahwa hari Valentine dijadikan sebagai ajang untuk mengumbar nafsu seksual di berbagai belahan dunia lain. Oleh karena itulah, maka saya akan sedikit membagi insight yang saya dapatkan dari buku yang berjudul Love and Reponsibility by Karol Wojtyla.

View original post 1,417 more words

Kerendahan Hati : Pelajaran dari Bilbo Baggins

Melampaui Psikologi : Psikologi Katolik

Bilbo Baggins

Tanggal 14 Desember film The Hobbit mulai diputar di bioskop. The Hobbit awalnya merupakan sebuah novel yang ditulis oleh J.R.R Tolkien, seorang penulis novel yang juga menulis The Lord of The Rings, novel yang sangat katolik walaupun unsur kekatolikannya tidak akan bisa dilihat secara langsung.

Nah, kali ini saya akan membahas tentang tokoh utama The Hobbit, Bilbo Baggins, dan apa yang kita bisa pelajari darinya. Sebagai pengantar, akan saya buka refleksi kita dengan tulisan berkut :

 “We all, like Frodo, carry a Quest, a Task: our daily duties. They come to us, not from us. We are free only to accept or refuse our task- and, implicitly, our Taskmaster. None of us is a free creator or designer of his own life. “None of us lives to himself, and none of us dies to himself” (Rom 14:7). Either God, or fate, or meaningless chance has laid upon each of us…

View original post 2,076 more words