Cinta yang Melapuk

Words of 'Poetica'

by

Benedikta Sekar

.

Sore di Hari Minggu yang terasa biasa saja. Aku memutuskan untuk menapaki marmer gereja untuk menyisihkan waktu untuk Tuhan di penghujung minggu. Aku datang sendirian waktu itu, orang rumah sudah melaksanakan kewajiban itu tadi pagi dan tidak berbidah pada aturan seperti yang aku lakukan.

Jam 17.11 WITA.

Aku masih ingat angka apa yang jam tunjukkan saat kubuka pintu kaca Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus, karena aku melakukannya sembari menilik jam digital di handphone-ku. Saat aku masuk, suasana di dalam gereja masih senggang, hanya ada segelintir umat yang mengisi baris-baris bangku yang disediakan. Ruangan berbentuk separuh lingkaran itu dipenuhi aroma dupa sisa pembakaran yang berasal dari turibulum[1] yang digunakan saat misa pagi tadi. Sementara, suara seorang wanita paruh baya yang mengumandangkan doa Rosario[2] membuat suasana kusyuk di tempat itu semakin menjadi.

Ah, misa belum dimulai rupanya, pikirku tatkala kulihat altar masih sepi penghuni…

View original post 1,883 more words

Advertisements

Kepergian

Words of 'Poetica'

by

Masya Ruhulessin

.

Yang paling kuingat dari dirimu adalah lekung indah di pipimu saat engkau tersenyum. Belasan tahun saling mengenal sepertinya tak pernah cukup untuk memaksa kita berujung pada sebuah keputusan yang bulat. Kita berjumpa saat masih anak-anak. Tak pernah kusangka nantinya akan ada sebuah perasaan yang muncul saat kita menginjak usia remaja. Akh, waktu itu kita selalu saja sering bertengkar tidak penting. Kalau mengingatnya aku merasa lucu sendiri. Bagaimana merahnya wajahmu saat menahan kejengkelan luar biasa terhadap tingkahku yang memang kadang menyebalkan. Mungkin tak pernah kau sadari aku berlaku seperti itu karena aku jatuh cinta padamu. Tak ada cara lain lagi. Semua orang mencintaimu. Salah satu cara untuk menarik perhatianmu adalah dengan berpura-pura membencimu. Aku menikmati semua itu, tahun-tahun pertengkaran kita, mengamati senyum mu diam-diam sampai perasaan sakit saat kau bergandengan mesra dengan wanita lain. Sungguh aku menikmatinya.

Setelah terpisahkan oleh jarak dan waktu yang panjang, kau datang…

View original post 242 more words

Bukan Cinta Pertama

Words of 'Poetica'

by

Gladish Rindra

.

Dia bukan cinta pertama.

Cinta pertama mungkin adalah seorang handai dari kelas yang sama kala sekolah dasar, yang malu-malu menyelipkan surat cinta di antara jemari. Cinta pertama mungkin berupa kawan tambun bergaya hip-hop ketika sekolah menengah. Cinta pertama mungkin pria tanggung di seberang rumah, menjulang bak tiang bendera yang menyumpal senja dengan senda ringan di pelipir jalan raya.

Dia bukan cinta pertama.

Tapi dia adalah yang pertama, yang mengajarkanku bagaimana sesungguhnya cinta.

.

Dia duduk di sampingku, memainkan tablet miliknya, sementara aku tenggelam dalam lautan pemikiran. Kami menunggu dokter pembimbing tugas akhirku. Atau lebih tepatnya, dia menemaniku menunggu beliau yang terhormat kembali ke kantornya dari makan siang.

“Hey, kamu kenapa?” dia memecah keheningan.

Aku menatapnya bingung, “Hmm?”

“Kamu…” dia menunjukku, mengulang pertanyaannya, “Kenapa?” Hening yang menghujam memaksanya menerka seadanya. “Win lagi?”

Dia menyebutkan seseorang yang pernah kukenal. Aku tengulas senyum tipis, “Udah selesai kok masalahnya.”

“Terus?”…

View original post 847 more words

Teknik Menulis Kolaborasi

Words of 'Poetica'

Apa sebenarnya menulis kolaborasi itu? Bagaimana caranya menulis kolaborasi? Nah, di sini akan dijelaskan teknis menulis kolaborasi yang dimaksud.

Mungkin ada yang mengartikan bahwa menulis kolaborasi itu seperti misalnya si A menulis beberapa paragraf untuk bagian awal, dan si B yang melanjutkan hingga ending. Namun menulis kolaborasi yang kami maksud di sini, adalah menulis secara bersama. Misalnya A menulis beberapa kalimat sebagai pembuka. Jika dirasa cukup, maka dilanjutkan oleh si B dengan menulis beberapa kalimat lanjutan. Setelah itu, si A kembali melanjutkan tulisan si B, dan seterusnya secara bergantian, hingga dirasa tulisan itu selesai. Tidak ada batasan berapa kalimat yang harus dibuat atau siapa yang harus mengawali dan mengakhiri cerita. Semua dilakukan mengalir saja.

Dengan begitu, menulis kolaborasi tak hanya dilakukan oleh dua orang (duet). Dengan teknik yang sama yakni menulis secara bergantian, menulis kolaborasi bisa dilakukan bertiga, bahkan berempat. Bentuk tulisan pun tak terbatas, bisa menulis sajak, puisi, cerpen…

View original post 830 more words